Hollaaaaa Selamat Tahun Baru 2015 guysssss !!!
Gak berasa ya sudah menginjak tahun 2015 lagi,,dan ini adalah hari pertama nya :D, ok ok mari kita flashback sebentar ke Tahun 2014 , kita berterimaksih dulu dengan semua kejadian dan orang-orang yang datang ataupun pergi ditahun itu.
Pertama,,,, diaal tahun 2014 kemaren rasanya tuh Malesin banget , sakit hati, galau , itu yang dirasain sekolah ? beh absurd banget hati ancur gak karuan, karna apa ? karna saat itu baru ditinggal orang yang spesial,,,saking nyaikitinnya tuh orang,sampe keluar kata-kata “Kayanya Tahun ini bukan tahun yang membahagiakan, diawal tahunnya aja udah nyakitin gini, apalagi kedepannya” pesimis banget waktu itu Cuma masalah hati doang x_x tapi lama-lama setelah dijalanin banyak orang baru datang mulai dari kakak-kakak STT , terus ada keadaan sama temen dikelas makin rame makin deket karna itu, lalu ada beberapa orang lain lagi yang datang. Cuma sayangnya semua itu gak bertahan lama, kaka kaka dari STT , orang-orang itu dan salah satu temen kelas :’) tapi dari situ aku kenal kamu ,, dan kamu masih stay sama aku, semoga akan terus stay sama aku ya({}) dan untuk kalian Whoaaaaaa Terimakasih untuk semuanyaaa,
Resolusi 2015 ? gak muluk-muluk ko Cuma Dilancarkan Urusan Sekolah karna tahun ini mulai mempersiapkan UJIAN NASIONAL, UJIAN SEKOLAH dan UJIKOM :’). Dan supaya Cepat ketemu kamu tentunya. :”)
Kamis, 01 Januari 2015
Sabtu, 29 November 2014
L u k a
Huh,,,,
Hembusan nafas kali ini terasa berat, begitu menyesakan seolah menahan beban yang begitu berat. Entah apa penyebab nafas ini terasa berat untuk dihembuskan,mungkin butuh sesuatu yang harus dilakukan untuk mengetahuinya. Tapi rasanya kali ini aku tahu sedikit kenapa semua terasa begitu berat,,, iya masalah yang selalu sama,masalah yang dirasa tak ada habisnya menyelimuti diri ini, rasanya sangat tidak mengenakan ketika diliputi oleh hal-hal seperti ini.
Teriakan ini, teriakan yang selalu sama “Aku lelah dan ingin berhenti”, iya selalu itu. Didukung dengan keadaan yang seolah benar benar ingin mengalahkanku. Luka ini terasa begitu menyayat. terkadang disaat berdiam diri ditempat yang ramai dengan kondisi yang selalu menyendiri terlintas dipikiranku pertanyaan-pertanyaan yang aku rasa sulit untuk kujawab sendiri, “Kenapa selalu aku ditempatkan didalam sebuah lingkungan yang tidak aku kehendaki?”, “kenapa pula aku selalu tidak diberi kesempatan untuk merasakan hal yang aku kehendaki?” atau “kenapa pula aku selalu berada dalam satu lingkungan dengan orang-orang yang tidak pernah bisa sejalan dengan aku?” , kenapa selalu aku ?.
Mengeluh ? rasanya ini bukan lagi perihal mengeluh tapi kejenuhan yang terjadi dalam tiap kehidupan diri seseorang , benarkan ? , entahlah harus apa, harus bagaimana untuk menghadapi semuanya. Rasanya ingin benar benar berteriak , meneriaki nama mu agar kamu kembali disini menemani aku .
Teriakan itu selalu berulang bercampur dengan harapan yang tak kunjung padam untuk menunggumu kembali disini. Rasa lelah jenuh dan bosan menunggu rasanya tak pernah sesakit ini. Dengan semua masalah yang ada , keadaan yang selalu tak pernah seperti yang aku inginkan atau orang-orang yang selalu “beda”, aku akan tetap berusaha menjadi yang terkuat,menjadi yang paling kuaat, dan yang penting menerima semuanya, serta menunggu kamu .
Hembusan nafas kali ini terasa berat, begitu menyesakan seolah menahan beban yang begitu berat. Entah apa penyebab nafas ini terasa berat untuk dihembuskan,mungkin butuh sesuatu yang harus dilakukan untuk mengetahuinya. Tapi rasanya kali ini aku tahu sedikit kenapa semua terasa begitu berat,,, iya masalah yang selalu sama,masalah yang dirasa tak ada habisnya menyelimuti diri ini, rasanya sangat tidak mengenakan ketika diliputi oleh hal-hal seperti ini.
Teriakan ini, teriakan yang selalu sama “Aku lelah dan ingin berhenti”, iya selalu itu. Didukung dengan keadaan yang seolah benar benar ingin mengalahkanku. Luka ini terasa begitu menyayat. terkadang disaat berdiam diri ditempat yang ramai dengan kondisi yang selalu menyendiri terlintas dipikiranku pertanyaan-pertanyaan yang aku rasa sulit untuk kujawab sendiri, “Kenapa selalu aku ditempatkan didalam sebuah lingkungan yang tidak aku kehendaki?”, “kenapa pula aku selalu tidak diberi kesempatan untuk merasakan hal yang aku kehendaki?” atau “kenapa pula aku selalu berada dalam satu lingkungan dengan orang-orang yang tidak pernah bisa sejalan dengan aku?” , kenapa selalu aku ?.
Mengeluh ? rasanya ini bukan lagi perihal mengeluh tapi kejenuhan yang terjadi dalam tiap kehidupan diri seseorang , benarkan ? , entahlah harus apa, harus bagaimana untuk menghadapi semuanya. Rasanya ingin benar benar berteriak , meneriaki nama mu agar kamu kembali disini menemani aku .
Teriakan itu selalu berulang bercampur dengan harapan yang tak kunjung padam untuk menunggumu kembali disini. Rasa lelah jenuh dan bosan menunggu rasanya tak pernah sesakit ini. Dengan semua masalah yang ada , keadaan yang selalu tak pernah seperti yang aku inginkan atau orang-orang yang selalu “beda”, aku akan tetap berusaha menjadi yang terkuat,menjadi yang paling kuaat, dan yang penting menerima semuanya, serta menunggu kamu .
Kamis, 20 November 2014
Jadi Siapa ?
Masih dengan diam tanpa mau membuka diri,masih dengan emosi tanpa mau menekan, Masih dengan Takut tanpa mau mengakui.
Masih dengan rindu tanpa mau Berjumpa, ah jangankan temu untuk mengobatinya pun sekedar dengan suara sapamu dengan telephone rasanya kamu pun enggan.
Masih dengan Cinta yang diam diam, Masih dengan perasaan yang belum mau diungkapkan, bukan perihal takut tapi soal keraguan yang menyelimuti hati.
Dan masih dengan Hati yang tetap dihuni oleh nama yang sama.
Serta dengan keadaan yang selalu sama tanpa perubahan, masih dengan angin yang sama yang bertiup dari darat laut ke darat tanpa mau merubah arah.
Masih dengan Ambisi yang sama tanpa mau mengganti , Masih dengan Obsesi yang sama tanpa mau merubah.
Semuanya sama seolah enggan melangkah maju meninggalkan segalanya, seolah hanya ingin memperjelas apa yang dirasa tanpa mau menggantinya tanpa mau mengakhiri.
Masih dengan rindu tanpa mau Berjumpa, ah jangankan temu untuk mengobatinya pun sekedar dengan suara sapamu dengan telephone rasanya kamu pun enggan.
Masih dengan Cinta yang diam diam, Masih dengan perasaan yang belum mau diungkapkan, bukan perihal takut tapi soal keraguan yang menyelimuti hati.
Dan masih dengan Hati yang tetap dihuni oleh nama yang sama.
Serta dengan keadaan yang selalu sama tanpa perubahan, masih dengan angin yang sama yang bertiup dari darat laut ke darat tanpa mau merubah arah.
Masih dengan Ambisi yang sama tanpa mau mengganti , Masih dengan Obsesi yang sama tanpa mau merubah.
Semuanya sama seolah enggan melangkah maju meninggalkan segalanya, seolah hanya ingin memperjelas apa yang dirasa tanpa mau menggantinya tanpa mau mengakhiri.
Jumat, 25 Juli 2014
Scary
Tirai jingga menutupi jendela, tidak sedikitpun menyisakan celah. Telah bertahun-tahun, dan ruangan ini sama sekali tak asing bagiku. Mungkin malam ini memang berbeda. Mungkin setiap hari aku begini. Mungkin hanya aku saja yang tak lagi mampu mengingkarinya.
Pikiran kita memiliki kecepatan tak hingga perihal berpindah dari satu ranah menuju ranah lainnya. Dari masa yang silam menuju masa yang belum juga tiba.
Untukku, ini babak ke-tujuh belas. Tentunya semua pun bisa menghitung. Namun, malam ini, di bawah sinar lampu yang urung kupadamkan, kuhitung tahun demi tahun dan bertanya; sudah sejauh mana aku melangkah? Seberapa panjang sisa perjalananku kelak?
Pernah entah kapan, aku melakukan hal yang persis sama. Di tahun terakhir sekolah dasar, aku berusaha menerka, “akan seperti apa aku di tahun depan?” Di tahun terakhir sekolah menengah pertama, aku juga mempertanyakannya, “akan seperti apa aku di tempat berikutnya?” Padahal, ternyata semua tidak seberat yang kita duga setelah kita terbiasa menjalaninya.
Dan malam ini, hal serupa pun terjadi.
Jika kamu bertanya kenapa kupikirkan ini semua, tak lain karena banyak hal telah menimpa. Momen demi momen serupa bata demi bata yang menyusun kita hingga menjadi diri kita yang sekarang. Satu saja bata tanggal, mungkin kita tak akan lagi sama seperti sediakala. Betapa berartinya momen dan cara kita memandang. Kadang aku benci betapa mengerikannya ketidakpastian akan momen-momen di masa depan, dan akan seperti apa kelak diriku dibuatnya.
Semesta bergerak. Kita berubah. Terlebih lagi jalan masih amat panjang terbentang.
Terlalu saru antara penasaran, tak sabar, atau justru khawatir.
Ini baru sepersekian hidupmu, untuk apa kamu khawatir?
Justru karena itulah aku bertanya. Dan, oh, soal angka. Tak ada bedanya kita hidup tujuh belas ataupun seribu tahun. Karena yang kelak orang dan Tuhan kenang adalah apa yang kita perbuat. Bilangan hanyalah pelipur lara untuk orang seperti kita yang mungkin akan mati tanpa meninggalkan kesan berarti. Pada akhirnya, akan selalu ada hal yang kita harap telah kita lakukan. Akan selalu ada kata yang kita harap sempat terucap. Namun, di sinilah kita. Di sinilah aku sekarang. Berharap perkara usia membuatku merasa sedikit lebih baik.
So scared of getting older, I’m only good at being young. So, I play the number games to find a way to say that life has just begun.
Seiring detik berganti dan momentum hadir, segalanya kelak berubah. Mungkin kita terlalu sibuk memungut detik demi detik, sampai kita lupa untuk apa. Terlalu sering menghitung angka ketimbang seberapa tulus kita menghidupi mimpi dalam dunia yang terus berekspansi.
Jarum jam menunjuk pukul dua belas. Kuputuskan untuk memejamkan mata.
Dan seperti hari yang sudah-sudah, aku akan terus bertanya seberapa besar perubahan yang kelak tiba, seberapa banyak penyesalan dan tahun yang kurasa sia-sia belaka. Tanpa sadar bahwa saat aku terbangun nanti, mungkin aku bukan lagi orang yang sama. Dan di masa yang akan datang, barangkali kita akan sama-sama menertawai kebodohan kita yang merasa tidak ke mana-mana hanya karena alasan usia—padahal kita telah berkembang sebegini pesat.
Rabu, 23 Juli 2014
Coretan sederhana
Hai, apa kabar?
Lucu rasanya ketika menjalani sesuatu yang dirasa stagnan, tapi ternyata saat kita menengok ke belakang, semua tak lagi sama.
Mungkin saya masih manusia yang selalu inevitably overthinking, benci tempat ramai, jarang memilih tapi sekalinya memilih sukar berganti pilihan, tidak suka musik era digital, paling bahagia setelah baca novel genre Fantasi , bodoh dalam hal basa-basi, tapi semangat setengah mati kalau diajak bicara tentang kehidupan.
Bersamaan dengan itu, nyatanya saya berubah. Tidak takut menyeberang jalan sendiri. Tidak takut bolos sekali-sekali kalau memang datang tapi sia-sia.
Katanya, mustahil kita tertawa karena lelucon yang sama berkali-kali, tapi saya tidak percaya. Ada banyak hal yang lucu dan tetap lucu bagi saya sampai bertahun-tahun ke depannya. Ada juga hal yang menyedihkan dan tetap seperti itu sampai entah kapan.
Omong-omong, sudah lama kita jadi objek lawakan semesta.
Kadang saya pikir ini sejenis survival game yang sengaja dirancang, dipersulit, dipermainkan, dan ditertawakan oleh seisi semesta layaknya acara televisi. Kita itu payah. Drama kejar tayang.
Mungkin apa yang kita anggap tragedi bisa ganti wajah jadi komedi satu hari nanti.
Tapi sepertinya bukan hari ini.
Langganan:
Postingan (Atom)